.

..
  • Kami Danga dan Kami Taat.

    Merupakan sebuah seruan menyerahkan ketaatan hanya kepada Allah swt.

  • Masjid

    Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih ([9]: 108)

  • Maha Suci Allah swt.

    Tasbih (subhanallah) adalah menyucikan Allah dari segala kekurangan yang tidak layak bagi-Nya.

Thursday, March 29, 2018

rumus copywriting

Monday, March 12, 2018

Kerinduan Ulama akan Kembalinya akan Khilafah Islamiyahh

*PARA ULAMA DAN CENDIKIAWAN INDONESIA JUGA MEWAJIBKAN KHILAFAH* Saya mendapatkan hadiah berupa buku yang sangat tebal yang diberikan oleh saudara saya, seorang pensiunan dari RSCM Jakarta. Buku tersebut berjudul *ENSIKLOPEDI ISLAM*, diterbitkan oleh *PT ICHTIAR BARU VAN HOEVE JAKARTA* tahun 1994 (Cetakan ketiga).

 Buku itu disusun oleh Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam yang dipimpin oleh *Drs H. A. Hafizh Dasuki, M. A.* yang beranggotakan puluhan penulis, diantara puluhan penulis itu terdapat nama-nama tokoh terkenal saat ini diantaranya : *Drs. Ade Armando Gani,  M.Sc, Dr. Azyumardi Azra,  M. A, Dra. Musdah Mulia, M. A.*, (ketiga tokoh tersebut kini terkenal sebagai tokoh *JIL*) dan masih banyak yang lainnya. Buku tersebut juga memuat kata sambutan dari Menteri Agama RI yang saat itu dijabat oleh *Dr. H. Tarmizi Taher*, juga oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan *Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro*. Yang menarik perhatian saya adalah bagaimana buku tersebut membahas tentang *KHILAFAH*. Pada jilid ketiga halaman 50 buku tersebut menuliskan bahwa Khilafah adalah Lembaga pemerintahan dalam Islam. Bahkan mengutip pendapatnya *Ibnu Khaldun* bahwa Khilafah adalah tanggung jawab umum yang sesuai dengan tujuan syarak (hukum Islam) yang bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan dunia dan akhirat bagi umat.

Selanjutnya Ibnu Khaldun mengatakan bahwa khilafah juga merupakan sinonim dari istilah Imamah, yakni kepemimpinan menyeluruh yang berkaitan dengan urusan agama dan urusan dunia sebagai fungsi Rasulullah SAW. Kemudian buku tersebut membahas berkaitan dengan Khilafah pada masa Abu Bakar Ra. dan Para Khulafaur Rasyidin yg lain hingga masa keruntuhan Khilafah Turki Usmani pada 3 Maret 1924. Dituliskan pula pada buku tersebut bahwa Umat Islam pernah *berupaya untuk menghidupkan kembali khilafah* melalui : 1. Muktamar Khilafah di Chairo tahun 1926 2. Kongres Khilafah di Mekkah tahun 1928 3. Di India timbul pula Gerakan Khilafah 4. Organisasi-organisasi di Indonesia juga membentuk komite Khilafah tahun 1926 yang berpusat di Surabaya untuk tujuan yang sama Masih di buku Ensiklopedi Islam, disitu tertulis bahwa *Pembentukan Khilafah adalah WAJIB*. Namun Para ulama berbeda pendapat berkenaan dengan wajibnya. Ada yang mewajibkan karena wahyu dan ijmak, namun ada juga yang mewajibkan karena pertimbangan akal. Para Ahli fikih suni antara lain *Abu Hasan Al Asy'ari* berpendapat bahwa khilafah itu wajib karena wahyu dan ijmak para sahabat. *Al Baghdadi* (ahli ushul fiqih) juga mendukung pendapat ini. *Al-Baqillani* (murid Al-Asy'ari) hanya mengatakan wajib. Menurut *Al-Mawardi* wajib secara ijmak, dalam arti fardu khifayah. *Al-Juwaini* hanya mengatakan wajib atas dasar ijmak, bukan atas dasar nas atau wahyu. *Al-Ghazali* berpendapat bahwa mendirikan khilafah adalah wajib syar'i (berdasarkan syarak). Demikian pula menurut *Ibnu Khaldun*.

 Tulisan diatas semakin memperkokoh perjuangan yang dilakukan oleh HTI. bahwa khilafah adalah sebuah kewajiban yang disepakati oleh para ulama mu'tabar. Bahkan para cendikiawan muslim di Indonesia juga mewajibkan tegakknya khilafah, sebagaimana yang tertulis di buku Ensiklopedi Islam tersebut. Perbedaan pendapat hanya permasalahan apakah wajib berdasarkan wahyu atau akal. Yang intinya adalah semua ulama *Mewajibkan adanya Khilafah* Oleh karena itu, sangatlah aneh dan asing jika ada ulama yang mengaku _bermanhaj As'ariyah_ terutama di Indonesia kemudian menolak sistem khilafah, padahal *Abu Hasan Al-Asy'ari* dan para Muridnya sendiri mewajibkan khilafah. Bisa jadi dia sebenarnya faham akan kewajiban terhadap khilafah tersebut namun karena faktor "kepentingan dunia" dia mengorbankan keyakinannya itu. Atau bisa jadi dia memang bukanlah ulama?.

Wallahu a'lam.
#KhilafahAjaranIslam #KhilafahKewajibanUmatIslam 4 Ramadhan 1438 H Abu Dailami - Pesantren Nidaa As-Sunnah

Nasyid Shalawat Nabi Saw. dengan View jalan Sudirman Padang (drone)

Sebuah persembahan sederhana yang akan menjadi catatan dan kenangan dalam perjuangan menuju Kemuliaan islam wa muslimin.

Friday, November 4, 2016

Anak Cucuku, inilah #BelaQuran 411-2016 (Koran, Sabtu 5 November 2016)

Pada hari Jum'at kaum muslimin di tanah Jawa dan ribuan lainnya dari sumatra Sulawesi Bali, Kalimantan dan bahkan malaysia berkummpul di Jakarta untuk mereflsikan Ghirah mereka dalam membela agama, ada beberapa kejadian pahit yang terjadi seperti warga NU dilarang hadir ole Bapak. Said Aqil Syiraj, Provikasi Kafir di hari H dan Insiden Rusuh dimalamnya,
juga wahai anak cucu kaum mukminin, peserta pembela quran dari jawa bisa pulang keperaduannya masing berbeda dengan dari luar jawa, mereka dimasa rusuh kebbingungan mau pergi kemana karena komando berpecah, maka Sdr. Fad






lizon mensilahkan menghinap di Komplek DPR RI (Halaman), namun sayang jam 01.00 (411-2016) Kapolda melarang Ribuan Muslim Luar jawa menginap disana (Menginap artinya: tidur di Aspal DPR RI). 

Pagi ini Sabtu 511 televisi tak meliput lagi aksi atau pesera aksi, hanya twitter dan Facebook yg bisa digunakan mencari kabar saudara kami tersebut.

Monday, October 31, 2016

Ottoman prince visits former realm to spread laughter

By Ayla Jean Yackley | ISTANBUL It's not every day Turkish comedy fans get to laugh at a descendant of the sultan. "I've got this fancy title but don't have the riches," said Naz Osmanoglu, a British comedian and member of Turkey's former ruling family, at his first-ever gig in Turkey last week. "My granddad was born in Dolmabahce (Palace) in a golden crib. Now I'm paying 30 lira to see it," he told the audience in a middle-class English accent at the first of three stand-up performances in Istanbul. ADVERTISING inRead invented by Teads Not much about Osmanoglu, whose full name is His Imperial Highness Prince Nazim Ziyaeddin Nazim Osmanoglu, hints at his royal pedigree as 17th in line to the Ottoman throne. It is a ceremonial title: The caliphate was abolished within months of the formation of the Turkish Republic in 1923. But Osmanoglu's visit - his first time on Turkish soil - coincides with a growing fascination about an imperial past increasingly evoked by President Tayyip Erdogan in his speeches. "It feels like a real embrace. I definitely recognize a resurgence of interest," Osmanoglu says in an interview while touring Dolmabahce, the neo-Baroque 19th Century palace that served as the final seat of Ottoman power. Today it's a museum. Dressed in a leather jacket and jeans, Osmanoglu makes a crack about "walking around like I own the place" after snapping a selfie beneath the family seal atop 10-meter white gates. The Ottoman Empire collapsed after joining the losing side in World War One under Osmanoglu's great-great-grandfather, Mehmet V, the world's penultimate caliph. A secular republic was founded by Mustafa Kemal Ataturk on its ashes. About 150 members of the family were banished from Istanbul in 1924, and their fall from grace from a house that once reigned from the Persian Gulf to the gates of Vienna was stunning. Exile impoverished them, and their members today are spread across Europe, the United States and the Middle East. One branch of the family reportedly sued in 2014 to reclaim billions of dollars in assets seized by the state in the 1920s. Osmanoglu, who grew up in Jordan and Dubai before attending boarding school in Britain and doesn't speak much Turkish, says the first visit was hard for his father, a retired pilot who was barred for half his life and still feels "a sense of loss" over the dynasty's dissolution. ALSO IN LIFESTYLE Got bank? Election could create flood of marijuana cash with no place to go Holocaust survivors walk the red carpet in Israel beauty pageant Now, both men are set to receive Turkish citizenship. "I'm proud of my family's rich history but I'm a regular guy doing my thing," said the London-based comedian, a rising star who performed in August at the Edinburgh Festival and finished the critically acclaimed BBC sitcom "Flat TV" last year. His lineage is rich ground for material. "All I need to do is kill 16 other guys to become sultan of Turkey," he said at the Istanbul show, to roars of laughter. (Editing by Nick Tattersall and Richard Balmforth)


Galeri Foto: salah seorang keturunan Ottoman







sumber: http://www.reuters.com/article/us-turkey-comedy-ottoman-idUSKCN12P1PW

Tuesday, October 25, 2016

Silaturrahim FB n Twitter

Menyapih Perlombaan